MODEL EVALUASI ADDIE

Menurut Shelton, K dan Saltsman, G. (2008) model ADDIE ini merupakan model perancangan pembelajaran generik yang menyediakan sebuah proses terorganisasi dalam pembangunan bahan-bahan pembelajaran yang dapat digunakan baik untuk pembelajaran tradisional (tatap muka di kelas) maupun pembelajaran online. Peterson (2003) menyimpulkan bahwa model ADDIE adalah kerangka kerja sederhana yang berguna untuk merancang pembelajaran dimana prosesnya dapat diterapkan dalam berbagai pengaturan karena strukturnya yang umum.

Adapun mengenai asal-usul model ADDIE ini menurut Molenda (2003) tidak diciptakan oleh seseorang namun awalnya merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk menggambarkan pendekatan secara sistematis dalam pengembangan pembelajaran. Menurut Molenda juga, model ADDIE ini sinonim dengan istilah Intructional System Development (ISD).

Di bawah ini merupakan skema mengenai tahapan-tahapan pelaksanaan evaluasi model ADDIE.

 

Gambar 1. Tahapan ADDIE

Dari skema model di atas dapat kita ketahui bahwa terdapat beberapa langkah – langkah di dalam melaksanakan evaluasi model ADDIE ini. Adapaun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

ANALISIS (ANALYSIS)

Dalam model ADDIE, analisis merupakan fase pertama yang harus dilakukan. Peterson (2003) mengatakan bahwa dalam fase ini yang menjadi perhatian utama bagi perancang adalah target pembelajarnya. Shelton, K. dan Saltsman, G. (2008) menyebutkan ada tiga segmen yang harus dianalisis yaitu pembelajar, pembelajaran, serta media (online) untuk menyampaikan bahan ajarnya.

Dari uraian di atas maka langkah-langkah dalam fase analisis ini setidaknya adalah:

  • Menganalisis pembelajar;
  • Menentukan materi ajar;
  • Menentukan standar kompetensi (goal) yang akan dicapai;
  • Menentukan media yang akan digunakan.

DESAIN (DESIGN)

Perancangan dilakukan berdasarkan apa yang telah dirumuskan dalam fase analisis. Shelton, K. dan Saltsman, G. (2008) menyatakan bahwa fase perancangan adalah analog dengan pembuatan silabus. Dalam silabus tersebut harus memuat informasi kontak, tujuan-tujuan pembelajaran, persyaratan kehadiran, kebijakan keterlambatan pekerjaan, jadwal pembelajaran, pengarahan, alat bantu komunikasi, kebijakan teknologi, serta desain antar muka untuk pembelajaran online. Peterson (2003) menyatakan bahwa dalam fase perancangan termasuk di dalamnya kegiatan mengidentifikasi tujuan-tujuan (objectives), menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, menentukan bagaimana tujuan-tujuan tersebut dinilai serta memilih bentuk penilaiannnya.

Dari uraian tersebut di atas maka dalam fase perancangan dilakukan langkah-langkah:

  • Membuat silabus yang di dalamnya termasuk:
  • Memilih standar kompetensi (goal) yang telah dibuat dalam fase analisis;
  • Menentukan kompetensi dasar (objektive);
  • Menentukan indikator keberhasilan;
  • Memilih bentuk penilaian;
  • Menentukan sumber atau bahan-bahan belajar.
  • Menerapkan strategi pembelajaran;
  • Membuat stroryboard;
  • Mendesain antar muka;

PENGEMBANGAN (DEVELOPMEN)

Fase ini merupakan fase produksi dimana segala sesuatu yang telah dibuat dalam fase perancangan menjadi nyata. Kegiatan-kegiatan dalam fase ini diantaranya adalah:

  • Membuat objek-objek belajar (learning objects) seperti dokumen teks, animasi, gambar, video dan sebagainya;
  • Membuat dokumen-dokumen tambahan yang mendukung.

IMPLEMENTASI (IMPLEMENTATION)

Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.

Pada fase ini sistem pembelajaran sudah siap untuk digunakan oleh pembelajar. Kegiatan yang dilakukan dalam fase ini adalah mempersiapkan dan memasarkannya ke target pembelajar.

EVALUASI (EVALUTION)

Evaluasi dapat dilakukan dalam dua bentuk evaluasi yaitu formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama dan di antara fase-fase tersebut. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang dibuat sebelum versi terakhir diterapkan. Evaluasi sumatif dilakukan setelah versi terakhir diterapkan dan bertujuan untuk menilai keefektifan pembelajaran secara keseluruhan.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan dalam fase evaluasi adalah:

  • Apakah tujuan belajar tercapai oleh pembelajar?
  • Bagaimana perasaan pembelajar selama proses belajar? suka, atau tidak suka?
  • Adakah elemen belajar yang bekerja dengan baik atau tidak baik
  • Apa yang harus ditingkatkan?
  • Apakah informsi dan atau pesan yang disampaikan cukup jelas dan mudah untuk dimengerti?
  • Apakan pembelajaran menarik, penting, dan memotivasi?

Referensi:

http://ermala.wordpress.com/2011/04/26/model-addie-sebagai-kerangka-kerja-pembuatan-e-learning/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s